Tampilkan postingan dengan label Istilah; Konsep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Istilah; Konsep. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Agustus 2009

5- PENELITIAN ILMIAH

Tidak semua kegiatan mencari tahu adalah kegiatan penelitian dalam makna “research”, dan tidak semua ‘penelitian’ seperti disebut di atas tadi dapat dikatakan sebagai penelitian ilmiah. Lalu, dengan demikian, apa yang dimaksudkan dengan penelitian ilmiah?
Ciri-ciri suatu penelitian ilmiah adalah bersistem, dikendali, empiris dan penyelidikan kritis terhadap proposisi hipotetis mengenai hubungan yang diperkirakan antar gejala-gejala alamiah. Pendekatan ilmiah adalah suatu bentuk khusus disistematiskan dari semua pemikiran reflektif dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari rasa ingin-tahu mendalam.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa suatu penelitian ilmiah:
1. Tertata menurut suatu sistem, dengan peneliti dapat memiliki kepercayaan kritis (tidak dogmatis) terhadap hasil yang didapat dari penelitian.
2. Empiris. Jika peneliti mempercayai sesuatu, maka hal itu harus didasarkan atas data empiris yang terbuka untuk diuji lagi secara objektif, baik oleh peneliti bersangkutan maupun oleh peneliti lain, yaitu suatu pengujian yang bebas dari perasaan pribadi bersangkutan.
Dalam suatu laporan ilmiah pemerian yang jujur, singkat tetapi jelas mengenai bahan (objek) penelitian yang digunakan, perlakuan atau faktor yang ditelaah pengaruhnya, rancangan dan prosedur pengumpulan data, satuan pengamatan, definisi dan pengukuran peubah-peubah penelitian, suasana ketika pengumpulan data, satuan evaluasi dan sebagainya perlu dicantumkan agar peneliti lain dapat memberikan penilaiannya secara objektif. Baik terhadap hasil penelitian itu sendiri maupun dalam membandingkannya dengan penelitian serupa, termasuk yang masih dalam status rencana.
Suatu penelitian ilmiah pada dasarnya adalah mendeduksi suatu teori pada keadaan-keadaan sebatas yang nyata dilakukan dan dipelajari, untuk kemudian melakukan suatu induksi berdasarkan keterangan yang dapat ditambang dari data empiris untuk maksud memperbaiki teori yang ada. Bahkan mungkin meng-hasilkan teori baru mengenai sesuatu.
Di lingkungan akademisi Indonesia istilah “penyelidikan”, “pengkajian” dan “penelitian” masing-masing tampaknya telah diterima secara luas sebagai suatu padanan terhadap istilah-istilah “investigation”, “study” dan “research” dalam Bahasa Inggeris.
Menyelenggarakan suatu telaahan, kajian atau penelitian ilmiah dalam suatu bidang atau lintas-bidang ilmu-pengetahuan & teknologi dan kemudian menyajikannya ke dalam suatu bentuk karya tulis ilmiah: skripsi, tesis atau disertasi merupakan suatu pra-syarat untuk meraih gelar akademis: sarjana, magister atau doktor. Tetapi, ditenggarai bahwa tidak sedikit mahasiswa mengalami hambatan dari dalam dirinya sendiri ketika berhadapan dengan tugas tersebut.
Mahasiswa perlu dibekali atau membekali diri dengan pengetahuan mengenai metodologi penelitian dan pedoman menyusun karya tulis ilmiah. Bahan yang diberikan untuk masing-masing dari kedua hal tadi dapat bervariasi untuk antar program-program studi. Yaitu, misalnya karena perbedaan dalam hal kekhasan program studi dan konvensi yang diikuti. Tetapi dalam banyak hal umumnya menunjukkan kesamaan, kesejajaran atau kesetaraan dalam asas-asas dan teknik-teknik.
Pemberian satu atau lebih matakuliah dalam statistika dimaksudkan untuk membekali mahasiswa agar mampu menggunakan statistika sebagai suatu ‘alat’ atau ‘bahasa’ bantu dalam memahami dan mengembangkan sendiri konsep-konsep dalam bidang-bidang ilmu minatnya dan sebagai ‘alat’ berharga untuk penelitian dan pengembangan suatu bidang “IpTek”.
Ada berbagai penamaan jenis-jenis penelitian yang kadang terasa rancu seperti halnya sering ditemukan dari penggunaan kata ‘penelitian’ untuk kegiatan-kegiatan yang sebenarnya bukan penelitian dalam makna ‘research’. Tidak jarang yang dimaksud dengan ‘penelitian’ ternyata adalah lebih merupakan kegiatan untuk mencari tahu mengenai sesuatu dalam makna pelacakan pendeterminasian, pemeriksaan, uji-coba, pengeksplorasian atau penyelidikan.
Ada berbagai penamaan dikhotomi berjenis-jenis penelitian, misalnya penelitian ‘sendiri’ lawan penelitian ‘pesanan’, penelitian ‘akademis’ lawan penelitian ‘praktis’, penelitian ‘ilmiah’ lawan penelitian ‘terapan’, penelitian pengembangan, penelitian ‘kuantitatif’ lawan penelitian ‘kualitatif’. Penamaan lainnya, misalnya penelitian ‘tindak’, penelitian ‘kebijakan’, penelitian ‘eksploratif’, penelitian ‘deskriptif’, penelitian ‘komparatif’, penelitian ‘verifikatif’, penelitian ‘konfirmatif’ dan sebagainya.
Penyelenggaraan suatu kajian dapat dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri atas komponen-komponen: masukan, proses dan keluaran. Langkah-langkah dalam proses penyelidikan, pengkajian atau penelitian kental dengan upaya-upaya untuk menjadi tahu dari status semula: belum atau belum jelas diketahui atau pengetahuan yang ada belum memuaskan atau masih diragukan kebenarannya. Ini antara lain dilakukan melalui kegiatan-kegiatan pengumpulan data empiris: pendeterminasian, pengenalan, pelacakan, perunutan, penelusuran, pemeriksaan, pengujian dan sebagainya.
Secara garis besar langkah-langkah pokok penelitian adalah:
(1) Menemukan (menjaring), mengenal lebih lanjut (menyaring) dan menyarikan/merumuskan masalah
(2) Menentukan pilihan pemecahan masalah
(3) Merumuskan pernyataan-pernyataan masalah dan jika ada pernyataan-pernyataan hipotesis penelitian
(4) Merumuskan sasaran, tujuan dan mungkin implikasi praktis kelak dari hasil penelitian yang direncanakan
(5) Merancang teknik dan prosedur pengumpulan data empiris
(6) Mengumpulkan data
(7) Mengelola, memeriksa dan menganalisis data
(8) Menafsirkan hasil analisis data
(9) Menarik simpulan-simpulan dan mungkin memberikan umpan-balik
(10) Membuat saran atau rekomendasi: generalisasi, implikasi dan perbaikan model
(11) Mengembangkan dan/atau menyebarluaskan hasil penelitian
Langkah-langkah di atas boleh jadi tidak lempang. Kegiatan-kegiatan mungkin saja merupakan suatu spiral langkah-langkah di mana pada suatu langkah mungkin ada suatu pilihan yang diambil untuk dijalani dari beberapa pilihan tertentu. Langkah yang diambil dapat berulang-balik (Babbie, 1989; 1990).
Statistika sebagai suatu alat dapat diperankan dalam nyaris semua langkah kegiatan penelitian. Pernyataan ini membantah pandangan tidak sedikit dari pengguna yang menyangka statistika terutama hanya diperlukan pada tahap pengolahan data.
Penelitian empiris akan berhubungan dengan data nyata yang belum tersedia atau sudah tersedia. Data yang didapat dari kegiatan pengumpulan data tentu diharapkan yang bermutu tinggi. Yaitu, data mutakhir yang didapat dengan cara yang sah, terandalkan, seksama dan teliti serta mencukupi rincian sesuai keperluan. Statistika ingin berhadapan dengan data ‘berkualitas’ tinggi, baik untuk peubah-peubah penelitian yang ‘kualitatif’ maupun ‘kuantitatif’, untuk dianalisis secara ‘kuantitatif’. Statistika tidak dapat berbuat banyak terhadap “messy data”. Dalam statistika berlaku pandangan "garbage in garbage out".
Seperti halnya dengan metode ilmiah yang bekerja dengan data empiris statistika tidak dapat bekerja dengan peubah yang atribut-atributnya tidak dapat diukur atau dinilai.
Dengan data dari peubah-peubah terukur ada teknik statistika yang mampu membangkitkan peubah-peubah konsep. Atau sebaliknya, untuk suatu peubah terukur terberikan faktor-faktor konseptualnya.
Kegiatan-kegiatan itu dapat dipandang sebagai suatu proses iteratif dalam menemukan ilmu, yang bagaikan kegiatan-kegiatan tanpa akhir. Dari suatu pemecahan masalah mungkin akan lahir masalah baru yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Suatu penelitian dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan baru yang diperlukan untuk memperluas cakrawala ilmu-pengetahuan. Jadi, masalah yang akan diteliti haruslah yang belum atau belum tuntas terpecahkan. Ini tidak harus merupakan masalah yang benar-benar baru dan sama sekali belum pernah diteliti sebelumnya. Karena pada umumnya suatu penelitian merupakan bagian dari proses iteratif (Box, Hunter dan Hunter, 1978) dari ranah data (fakta/gejala/data empirik) ke ranah teori (model/hipotesis/ konjektur) atau sebaliknya dalam usaha menemukan ilmu-pengetahuan untuk mengembangkan suatu teori atau bahkan mungkin mendapatkan suatu teori baru.
Suatu penelitian untuk tujuan memahami sendiri suatu konsep atau teori tertentu dalam proses belajar dan digunakan untuk diri sendiri, tidak untuk maksud memberikan sumbangan teori baru (atau memperbaiki teori lama) yang akan memperkaya khasanah ilmu-pengetahuan, merupakan suatu kecuali.
Status suatu penelitian mungkin merupakan suatu bagian dari suatu seri penelitian-penelitian dari suatu ‘payung’ penelitian’ bercakupan lebih luas atau berjangka panjang. Kita mengenal adanya pentahapan dalam penelitian tertentu mengenai suatu masalah, lebih-lebih yang diselenggarakan oleh suatu lembaga penelitian. Penelitian-penelitian serupa dengan suatu penelitian yang direncanakan mungkin telah ada dan informasinya tersedia.
Jarang ada suatu penelitian yang benar-benar merupakan suatu penelitian perintis. Memang betul fakta menunjukkan bahwa dari sekian banyak penelitian yang dilakukan, cukup banyak yang tidak ditulis laporannya. Di antara yang telah ditulis laporannya cukup banyak tidak dikomunikasikan dalam bentuk terbitan dan selanjutnya di antara yang diterbitkan itu mungkin hanya sedikit dari masyarakat ilmiah telah membacanya dengan kritis.
Oleh karena itu, langkah arif sebelum merumuskan pernyataan masalah ialah lebih dahulu menelaah temuan-temuan sebelumnya, mempelajari teori-teori atau konsep-konsep yang ada dan dapat digunakan untuk penelitian yang hendak dirancang. Yaitu, yang berkaitan dengan kenyataan atau gejala yang dihadapi sebagai masalah kini. Jadilah perenung dan pemikir asli, bukan sebagai penjiplak membabi-buta. Kemajuan ilmu tidak terjadi hanya dengan selalu meniru apa yang telah dilakukan orang lain, dengan menggunakan serba prosedur dan teknik yang tepat sama. Berusahalah untuk menjadi penggagas atau penemu asli yang produktif. Perkecualian barangkali jika yang dimaksud ialah untuk alih pengetahuan dan teknologi.

4- STATISTIK, STATISTIKA DAN PERSTATISTIKAN

Setiap pengamatan (observation) berhadapan dengan dua hal yang tak-terpisahkan:
objek yang diamati
untuk peubah apa pengamatan terhadap objek dilakukan
Pengamatan-pengamatan dilakukan terhadap satuan-satuan pengamatan (observation units) dari bentuk-bentuk (shapes) atau ukuran-ukuran (sizes) tertentu. Bentuk-bentuk atau ukuran-ukurannya mungkin berbeda-beda (heterogen) atau serupa (homogen).
Suatu pengamatan untuk suatu peubah pengamatan mungkin memiliki suatu satuan ukur (measurement unit) atau tidak memiliki satuan ukur.
Statistik
Sembarang unsur dari suatu gugus data atau informasi mengenai sejumlah objek pengamatan dinamakan sebagai statistik. Sembarang ringkasan data seperti rataan (mean), median dan simpangan baku (standard deviation) yang didapat dari suatu contoh (sample) juga disebut sebagai statistik. Penduga (estimator) atau dugaan (estimate) bagi suatu parameter populasi data atau parameter dari suatu model populasi juga dinamakan sebagai suatu statistik.
Statistika
Statistika ialah suatu bidang ilmu, pengetahuan dan seni yang mempelajari seluk-beluk statistik. Termasuk mengenai sifat-sifatnya dan penerapannya ke dalam berbagai bidang ilmu-pengetahuan, teknologi, penelitian serta pengembangan dan kegiatan rutin sehari-hari.
Sejarah Perkembangan Statistika
Sebagai pengetahuan dan seni tentang statistik usia statistika dapat dianggap sudah cukup tua juga, yaitu sejalan dengan sejarah peradaban manusia itu sendiri. Lukisan manusia purba didinding gua misalnya mengenai hewan-hewan buruan atau peliharaan dapat dipandang sebagai bukti bahwa mereka telah ‘berstatistik’. Tetapi umum telah disepakati bahwa tonggak kelahiran perstatistikan adalah dalam zaman menjelang kelahiran nabi Isa.
Konon kata “statistik” berasal atau pernah ada hubungannya dengan penyelenggaraan kehidupan bernegara (Inggeris: state; Belanda: staat). Pengumpulan keterangan pada mulanya dilakukan atas perintah raja suatu negara yang ingin mengetahui kekayaan negara (dan jajahannya) maupun warganya berupa hasil pertanian, hewan piaraan dan sebagainya.
Teladan tertua mengenai kegiatan pengumpulan data semacam itu dapat diambil dari zaman pemerintahan kaisar Augustus dari Kekaisaran Romawi. Kaisar membuat pernyataan bahwa seluruh penduduk dunia di bawah kekaisaran harus dikenakan pajak. Semua orang harus terdaftar di permukiman asalnya. Oleh karena itu, jika tidak demikian maka nabi Isa tidak dilahirkan di Bethlehem tetapi mungkin di Nazareth.
Peristiwa sejarah lain yang dapat dikemukakan adalah sewaktu William si Penakluk menyelenggarakan sensus penduduk dan kekayaan warga negara Kerajaan Inggeris Raya untuk keperluan penentuan pajak. Semua keterangan yang dikehendaki itu dicatat dalam “Domesday Book”.
Seni dan pengetahuan empiris tentang prosedur pengumpulan data untuk keperluan negara dan cara-cara penyajiannya dalam bentuk tabel atau graf agar lebih mudah untuk ditafsir dan disimpulkan yang didapat dari pengalaman selama berabad-abad itu menjadi cikal ilmu statistika mutakhir.
Sebagai suatu ilmu usia statistika tergolong masih muda. Yaitu dapat dikatakan bermula pada tahun-tahun peralihan dari abad XIX ke XX. Karl Pearson (1857 – 1936) dapat disebut sebagai salah seorang ‘bidan’ kelahiran pemikiran ilmu statistika dengan jurnal ilmiah Biometrika sebagai sarananya. Untuk bidang ilmu-ilmu hayat, pertanian dan ilmu kesehatan statistika induktif mulai berkembang dengan pesatnya setelah terbit buku Statistical Methods for Research Workers yang ditulis oleh R. A. Fisher (1890 – 1962) pada tahun 1925. R. A. Fisher (yang cara berpikirnya banyak dipengaruhi oleh aliran statistika yang dianut Karl Pearson) merupakan promotor penerapan prosedur statistika dalam bidang ilmu-ilmu hayat, genetika, pertanian dan ilmu pengobatan.
Selain R. A. Fisher beberapa ilmuwan lain yang turut memberikan sumbangan pemikiran penting sebagai landasan kokoh yang berguna dalam pengembangan statistika di antaranya ialah Jerzey Neyman dan E. S. Pearson. Dalam tahun 1936 dan 1938 mereka mengemukakan teori mengenai pengujian hipotesis yang menjadi landasan bagi kajian-kajian statistika selanjutnya.
Selama Perang Dunia II seorang statistisi bernama Abraham Wald (1920 – 1950) melansir pemikiran-pemikiran statistika yang pernah menjadi rahasia perang bala tentara sekutu. Hasil pemikirannya itu kemudian diterbitkan dalam dua buah buku, yaitu Sequential Analysis dan Statistical Decision Function.
Sehubungan dengan itu perlu juga disebut L. J. Savage dengan bukunya Foundations of Statistics. Dari pemikiran ini kemudian berkembang suatu cabang Statistika Induktif yang dinamakan sebagai “Statistika Subjektif”. Jika tadinya semua penarikan simpulan statistis dilakukan bebas dari pandangan pribadi penyidik masalah, maka dalam statistika subjektif penarikan simpulan dilakukan dengan memasukkan pandangan pribadi penyidik masalah sebagai salah satu faktor penentu. Perkembangan statistika ini terutama sangat pesat dalam kegiatan-kegiatan yang meminta adanya strategi seperti dalam kemiliteran dan manajemen.
Dalam dua-tiga dasawarsa terakhir ini terjadi perkembangan sangat pesat dari statistika, baik sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri maupun sebagai suatu ilmu pengetahuan yang diterapkan dalam berbagai bidang ilmu-pengetahuan bukan statistika, teknologi, penelitian & pengembangan dan berbagai keperluan praktis dalam kegiatan dari berbagai lembaga. Dari tahun ke tahun makin banyak saja bidang-bidang bukan-statistika menerapkan statistika sebagai suatu “alat bantu” atau “bahasa ilmu” yang dapat diandalkan.
Perkembangan melahirkan berbagai aliran pemikiran dalam statistika yang tidak jarang menimbulkan debat dan polemik di kalangan ilmuwan statistika sendiri. Di antaranya yang terkenal ialah debat antara aliran Fisher lawan aliran Bayes. Beberapa konsep ada yang masih dalam kontroversi.
Sumbangan dari kemajuan Teknologi Informatika
Perkembangan yang terjadi dalam dua-tiga dasa warsa terakhir ini dapat dikatakan tidak terlepas dari meningkatnya tantangan berupa masalah-masalah nyata yang makin kompleks dari dunia praktik dan perkembangan pesat fasilitas komputasi, baik dalam hal piranti kerasnya maupun lunaknya.
Dengan kemajuan pesat fasilitas komputasi yang makin ‘sophisticated’, berkemampuan serta berkecepatan proses tinggi, tetapi personal dan ramah maka banyak konsep statistika yang tadinya untuk sementara ‘digantung’ dalam bentuk teori-teori beraroma matematis yang elegan – yang bagi kebanyakan orang sukar dicerna - kini menjadi operasional untuk diterapkan terhadap data empiris. Ringkasan-ringkasan data juga makin terbuka untuk disajikan dalam bentuk graf. Ini melahirkan cabang-cabang baru seperti “Komputasi Statistis” dan “Grafika Komputer”.
Statistika Deskriptif yang semula di mata tidak sedikit orang (bahkan ada di kalangan ilmuwan statistika sendiri) dipandang sebagai kurang ‘gaya’ dibandingkan dengan Statistika Inferens kini dapat direvitalisasi. Ini misalnya melahirkan “Exploratory Data Analysis” dalam pandangan “let the data speak for themselves”, yang dipandang lebih realistik daripada a priori memegang sejumlah pertimbangan dan anggapan yang diperlukan dalam menganalisis suatu gugus data. Untuk menerapkan suatu teori sebaran peluang-peluang peubah acak pengguna statistika tidak hanya berhadapan dengan sederet anggapan-anggapan untuk bidang masalah tetapi juga dengan pertimbangan dan anggapan statistis yang harus dipenuhi juga sebagai syarat keabsahan penerapan suatu teknik atau metode statistika.
Dengan kemajuan fasilitas komputasi beberapa cabang statistika seperti yang bekerja dengan sebaran bebas, yaitu Statistika Non-parametrik dan Model-model Nonlinear (yang dalam komputasi memerlukan iterasi atau simulasi matematis) telah banyak berkembang. Dari semua kemajuan yang telah dicapai tadi dapat didudukkan kembali salah satu fungsi statistika, yaitu sebagai suatu alat untuk penelitian dan pengembangan. Ini tidak hanya dapat diterapkan untuk suatu penelitian dari orientasi “deduktif – induktif” tetapi juga untuk orientasi sebaliknya, yaitu “induktif – deduktif”. Hal ini masih banyak tidak dikira oleh kebanyakan pengguna statistika.
Penerapan Statistika
Dalam usianya yang nisbi masih muda statistika kini sudah meluas diterapkan dalam berbagai bidang ilmu-pengetahuan, teknologi dan manajemen. Beberapa bidang ilmu-pengetahuan bukan statistika bahkan menerapkan teknik-teknik statistika tertentu dengan intensif dan menuntut penamaan sendiri menurut bidang penerapan:


biometrika, biostatistika, genetika statistis, psikometrika, statistika pendidikan, environmetrika, fisika statistis, teknometrika, statistika industri, ekonometrika, sosiometrika dan sebagainya.

Pengguna tiap cabang statistika terapan tadi ada yang menuntut untuk teknik-teknik statistika tertentu yang populer digunakan di bidangnya.
Sementara itu, sebagai suatu bidang ilmu, statistika juga berkembang dan melahirkan berbagai cabang dalam ilmu statistika baik untuk aspek-aspek teoritisnya maupun penerapannya. Tidak sedikit dari konsep-konsep statistika terkembangkan dari hasil antisipasi pemikiran statistis terhadap masalah-masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa di antara penerapan konsep teoritis statistika baru berkembang kemudian karena adanya kendala, seperti dukungan dari bidang ilmu matematika dan ketersediaan piranti keras maupun lunak untuk pengkomputasian statistis.
Kegunaan statistika dalam berbagai bidang ilmu-pengetahuan telah lama dirasakan dan disadari dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Mahasiswa dari beberapa program studi bukan statistika tertentu perlu dibekali dengan pengetahuan statistika. Hal ini terlihat dari penyantuman satu atau beberapa matakuliah statistika dalam kurikulum program-program studi dari beberapa bidang ilmu-pengetahuan seperti pertanian (termasuk peternakan, perikanan & kelautan, kehutanan, teknologi pertanian dan kedokteran veteriner), matematika dan ilmu-ilmu pengetahuan alam, kedokteran, teknik, ekonomi, psikologi, ilmu sosial dan ilmu politik dan kependidikan.
Pemberian satu atau lebih matakuliah dalam statistika dimaksudkan untuk membekali mahasiswa agar mampu menggunakan statistika sebagai suatu ‘alat’ atau ‘bahasa’ bantu dalam memahami dan mengembangkan sendiri konsep-konsep dalam bidang-bidang ilmu minatnya sendiri dan sebagai ‘alat’ berharga untuk penelitian dan pengembangan dalam suatu bidang ilmu-pengetahuan dan teknologi.
Sayang, dari pengalaman selama ini pengajaran statistika sering kurang ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang cara bernalar statistis serta peranan dan kegunaannya dalam usaha penemuan jawaban bagi suatu masalah nyata di berbagai bidang ilmu-pengetahuan atau bahkan dalam keperluan praktis sehari-hari.
Perstatistikan
Dalam buku larisnya Statistics; Concepts and Controversies David S. Moore (1997) membagi berbagai kegiatan dalam perstatistikan ke dalam aspek-aspek:
Pemproduksian data
Pengorganisasian data
Penarikan simpulan dari data
Hal itu tampaknya sejalan saja dengan penggolongan masyarakat perstatistikan di Indonesia secara umum yaitu: produsen statistik, konsumen statistik dan pengembang statistika. Pemilahan tersebut adalah posisional yaitu menurut situasi, keadaan dan kesempatan yang ada sesuai dengan minat dan kemampuan seseorang dalam suatu aspek dari perstatistikan atau cabang statistika.
Pempoduksian data
Beberapa pertanyaan relevan yang perlu diperhatikan dalam aspek kegiatan pemproduksian data antara lain adalah:
Data apa saja yang dikumpulkan, dipantau, diakses, dikutib dan sebagainya? Terhadap apa atau siapa saja? Mengapa atau untuk tujuan apa data itu dikumpulkan? Bagaimana atau apa metode serta prosedur pengumpulan data yang digunakan? Kapan atau kapan saja pengamatan-pengamatan dalam pengumpulan data dilakukan? Apa instrumen (berikut spesifikasinya) yang digunakan dalam pengamatan? Dioperasikan oleh siapa?
Pada dasarnya data dikumpulkan untuk memperoleh informasi berharga yang:
(i) dibutuhkan,
(ii) komprehensif,
(iii) jelas,
(iv) sah,
(v) terukur/ternilai,
(vi) seksama,
(vii) tidak bias,
(viii) teliti,
(ix) terverifikasi dan tervalidasi,
(x) tepat waktu dan
(xi) dapat diakses cepat dan mudah.
Beberapa konsep atau aspek statistis mengenai rancangan kajian dalam bentuk sebagai pengantar dibicarakan dalam Bab 6 dari buku ini. Bahan tersebut menyinggung masalah-masalah dalam pengumpulan data dengan metode survei contoh peluang (probability sample survey), percobaan contoh (sample experiment): randomized serta quasi dan kajian observasional/ kasus.
Pengorganosasian data
Kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam aspek pengorganisasian data antara lain adalah
(i) Penanganan data: penyuntingan, penyandian, pemasokan data ke dalam media elektronik, penyuntingan, verifikasi, validasi, kompilasi dan seterusnya sampai tersediakan berkas database bersih siap analisis.
(ii) Analisis data pada dasarnya adalah untuk memproduksi ringkasan data siap saji untuk ditafsirkan dan disimpulkan sebagai ‘jawaban’ atas`’pertanyaan’ seperti tersirat atau tersurat dalam rumusan masalah, pernyataan masalah atau pernyataan hipotesis dan tujuan kajian.
Sebagian besar dari isi buku ini membahas asas-asas, landasan-landasan dan penerapan analisis data, yaitu diusahakan melalui teladan-teladan dengan data empirik.
Penarikan simpulan dari data
Simpulan statistis bukanlah ‘ultimate results’. Melalui teladan-teladan yang diberikan buku ini hanya membeberkan tafsiran-tafsiran dan simpulan-simpulan statistis yang dapat mengantarkan kepada tafsiran-tafsiran dan simpulan-simpulan lebih lanjut menurut ‘bahasa’ bidang masalah.